Minggu, 15 Mei 2022

Bersegera Dalam Kebaikan

Fastabiqul Khairat 

وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah, 2: 148)

Fastabiqul Khairat pada ayat ini ialah bersegera mentaati, menerima dan mengikuti perintah Allah Ta'Ala dan dalam konteknya untuk mengalihkan kiblat dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram.  

وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُوْنَ

“Dan untuk yang demikian itu hendaklah orang berlomba-lomba.” (QS. Al-Muthaffifin, 83: 26)

Di banyak hadits kita pun menemukan taujihat nabawiyah yang mendorong umat Islam untuk bersegera dan berlomba-lomba dalam beramal shalih. Misalnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا

“Bersegeralah melakukan amal-amal saleh (kebajikan). (Sebab) sebuah fitnah akan datang bagai sepotong malam yang gelap. Seseorang yang paginya mukmin, sorenya menjadi kafir. Dan seseorang yang sorenya bisa jadi mu’min, paginya menjadi kafir. Ia menjual agamanya dengan harga dunia.” (HR. Muslim)

بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ سَبْعًا هَلْ تَنْتَظِرُونَ إِلَّا فَقْرًا مُنْسِيًا أَوْ غِنًى مُطْغِيًا أَوْ مَرَضًا مُفْسِدًا أَوْ هَرَمًا مُفَنِّدًا أَوْ مَوْتًا مُجْهِزًا أَوْ الدَّجَّالَ فَشَرُّ غَائِبٍ يُنْتَظَرُ أَوْ السَّاعَةَ فَالسَّاعَةُ أَدْهَى وَأَمَرُّ

Segeralah beramal sebelum kedatangan tujuh hal, tidaklah kalian menunggu selain kefakiran yang membuat lupa, kekayaan yang melampaui batas, penyakit yang merusak, masa tua yang menguruskan, kematian yang menyergap tiba-tiba, Dajjal, seburuk-buruk hal gaib yang dinanti-nanti, kiamat dan kiamat itu sangat membawa petaka dan sangat pahit.“ (Sunan Tirmidzi No. 2228)

 سَابِقُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِۙ اُعِدَّتْ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِاللّٰهِ وَرُسُلِهٖۗ ذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَاۤءُ ۚوَاللّٰهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ - ٢١

Berlomba-lombalah kamu untuk mendapatkan ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Qs Al-Hadid:2)

Tak Kenal Kata Bersantai Untuk Proyek-Proyek Kebaikan

- Bersegeralah untuk menggapai ampunan Allah dan surga-Nya. Surga yang luasnya melebihi langit dan bumi. Luasnya secara materi tak terukur, kenikmatannya limitless.

- Semuanya tersedia dan disediakan untuk kaum beriman yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, yang memiliki kredibilitas dan kesungguhan serta jiwa-jiwa kontributif.

Karunia Allah di akhirat sungguh tak bisa diukur atau bahkan diperkirakan. Allah memberikannya sesuai kehendak-Nya, mutlak tanpa ada yang bisa menghalanginya. Karena kekuasaannya tidak terbatas dan tiada bandingannya.

- Agar kaum beriman tetap fokus menyiapkan bekal kehidupan akhirat.


Kenapa ?

1. Waktu yang dimilii hanya saat ini, hari esok tidak kita ketahui dan yang telah berlalu tidak bisa diubah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan kita,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌمِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Dua kenikmatan yang kebanyakan orang lalai di dalamnya; kesehatan, dan waktu senggang” (HR. At Tirmidzi no. 2304, dari shahabat Abdullah bin Abbas).

Ibnu Mas’ud pun pernah berkata,

مَا نَدِمْتُ عَلَى شَيْءٍ نَدَمِى عَلىَ يَوْمٍ غَرَبَتْ شَمْسُهُ نَقَصَ فِيْهِ أَجَلىِ وَلَمْ يَزِدْ فِيْهِ عَمَلِيْ

“Aku tidak pernah menyesali sesuatu. Penyesalanku hanyalah ada pada satu hari dimana mataharinya terbenam, berkurang pada hari itu umurku, akan tetapi tidak bertambah padanya amalku.”

2. Amal dikerjakan sendiri
Maka di akhirat nanti, setiap kita akan sibuk dengan urusan amal masing-masing. Allah Ta’ala berfirman,

يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ (٣٤) وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ (٣٥) وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ (٣٦) لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ (٣٧)

“Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya,dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (QS. ‘Abasa, 80: 34 – 37)

Setiap kita harus mempertanggungjawabkan seluruh amanah yang ada di pundak kita masing-masing. Rasulullah shallallahu ‘ala‘hi wa sallam bersabda,

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا وَالْخَادِمُ رَاعٍ فِي مَالِ سَيِّدِهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya. Imam adalah pemimpin yang akan diminta pertanggung jawaban atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban atas keluarganya. Seorang isteri adalah pemimpin di dalam urusan rumah tangga suaminya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan rumah tangga tersebut. Seorang pembantu adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan tanggung jawabnya tersebut.” (HR. Bukhari No. 844)

3. Derajat seseorang tergantung kesungguhan merespon kebajikan dan mengamalkanya (ketaatan)

Allah Ta’ala berfirman,

تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam syurga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. An-Nisa, 4: 13)

4. Setiap waktu, ada aktivitasnya sendiri. Ibadah-ibadah yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala sebenarnya mengajarkan kepada kita untuk selalu melaksanakan amal tepat pada waktunya.

Berkaitan dengan perintah shalat Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa, 4: 103)

Berkaitan dengan perintah shaum Allah Ta’ala berfirman,

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu…” (QS. Al-Baqarah, 2: 185)

Berkaitan dengan perintah haji Allah Ta’ala berfirman,

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi…” (QS. Al-Baqarah, 2: 197)

Berkaitan dengan perintah zakat Allah Ta’ala berfirman,

وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ

“…dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin)…” (QS. Al-An’am, 6: 141)


5. Kesempatan beramal seringkali diberikan oleh Allah Ta’ala hanya kepada orang dan waktu yang tertentu. 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أَفْنَاهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَ أَبْلاَهُ وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ وَمَاذَا عَمِلَ فِيمَا عَلِمَ

“Tidaklah bergeser telapak kaki bani Adam pada hari kiamat dari sisi Rabb-nya hingga ditanya tentang lima perkara; umurnya untuk apa ia gunakan, masa mudanya untuk apa ia habiskan, hartanya dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia belanjakan, dan apa yang ia perbuat dengan ilmu-ilmu yang telah ia ketahui.” (HR. At-Tirmidzi no. 2416 dan dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani di dalam Ash Shahihah no. 947).

Wallahu A’lam.


Minggu, 16 Januari 2022

Ayat-ayat Motivasi Dalam Al-Qur'an

 Jangan Bergantung Kepada Selain Allah. Terlihat Kuat, Sejatinya Sangat Lemah.

(Surat QS. Al-Ankabut [29] : 41)

Laki-laki hanya diperlukan untuk membuahi setelah itu akan dibunuh. Ketika laba-laba dilahirkan ditaruh di tempat yang sempit. Mudah terancam pihak lain. Seperti itulah lemahnya rumah laba-laba. Kata imam Al-Ghozali, diantara ciri orang-orang yang tidak bergantung kepada Allah. Mungkin jasadnya terlihat tangguh namun jiwanya rapuh. Mudah putus asa dan tidak punya kekuatan mental.

Kita tahu orang-orang yang mudah putus asa, bunuh diri namun kita lihat serba berkecukupan. Ternyata kebahagiaan sejati bukan dari eksternal namun dari dalam jiwanya. Maka didalam jiwa yang kuat ada jasad yang kuat.

(Surat QS. Al-Baqarah[2] : 216)

Ketika kaum muslimin pertama kali berjihad membela Agama dengan mengangat senjata dan potensi nyawa serta darah. Maka dikuatkan dengan Boleh jadi kalian tidak menyenangi perintah jihad ini, kata siapa orang yang mati dijalan Allah akan mati ? Mereka terus hidup diterangi di jalan Allah SWT.

Allah yang paling mengetahui yang terbaik untuk kita. Dalam salah satu karya Buya Hamka : apakah peluru ada di depan atau belakang? Mereka akan bersyukur jia peluru di depan karena berarti gugur melawan penjajah. 

Penyakit yag lebih berbahaya dari corona adalah Al-wahn, cinta dunia dan takut mati. 

QS Abasa 80 : Ayat 24

Teliti Makanan, Jasad Sehat dan Kuat

Jumat, 22 Oktober 2021

Menjadi Pendengar Yang Efektif

Berikut ini semoga informasi bermanfaat yang saya dapat dari berbagai sumber (tercantum). Mohon maaf apabila ada yang tidak dirubah dan hanya copas. Jika ada perbaikan silakan menghubungi admin.

Mendengar secara efektif adalah dengan memadukan indra pendengaran dengan pikiran, sehingga dapat menangkap dan menginterpretasikan pesan yang disampaikan.

Biasanya yang menghambat adalah pikiran kita sendiri. Manusia punya ''suara kecil'' di dalam kepala yang tidak pernah berhenti melakukan analisis, nilai, evaluasi atau yang lainnya sehingga manusia lebih fokus dengan suara kecil tersebut daripada memperhatikan lawan bicara. 

Hal ini membuat mudah perhatiannya beralih ke hal lain dalam waktu singkat. Walaupun ini wajar tapi tidak bisa kita diabaikan atau dibiarkan karena akan mengganggu proses komunikasi. 

atau

Banyak juga dari kita yang lebih suka berbicara sehingga ketika mendengarkan saudara sedang berbicara tiba-tiba dipotong. Padahal saudara kita yang bicara belum selesai. 

Minggu, 27 Juni 2021

Berusaha Muhasabah Diri Secara Rutin

  Assalamualaikum, seperti biasa postingan kali ini aku dapatkan dari salah satu kajian online yang belum lama kuikuti. Adapun pematerinya seorang mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Sudan. Mudah-mudahan bermanfaat :)


Pembahasan terbagi menjaid 2 poin utama yaitu Menghafal Al-Quran dan Muhasabah diri.

Menghafal Al-Quran

Setiap manusia memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam menghafal Al-Quran. Banyak yang masih muda maupun sudah berumur bisa hafal 30 Juz. Maka menghafal tidak mengenal usia. Walaupun satu hari hanya satu ayat, dari keterbatasan itu tidak akan menjadi penghalang. Selama yang dilakukan ialah secara istiqomah (terus menerus). Tidak jarang yang sedikit namun istiqomah bisa berbuah manis. Dalam prosesnya kita juga secara berkala memperbaharui niat karena tidak jarang ada saja hal yang membuat kita lupa dengan niat awal. 

Pertama-tama kita harus mengenal Al-Quran, barulah menghafal kemudian murojaah selamanya. (cmiiw sepertinya ada langkah yang terlewat)

Para penghafal Quran itu ibarat seorang ibu yang mengandung. Dimana seorang ibu merasakan letih, lelah atau inginnya tidak beraktivitas karena beratnya ketika mengandung. Seperti itulah juga ketika menghafal Al-Quran, kita rela melawan itu semua dan mengorbankan banyak hal. 

Namun, ketika melahirkan? rasa bahagia muncul. Pun ketika penghafal telah berhasil menyelesaikan hafalannya. Alhamdulillah. Bahagia luar biasa.


Muhasabah

artinya melihat, mengevaluasi pada amalan yang telah dilakukan oleh diri ini, lalu mengoreksi kesalahan yang dilakukan dan menggantinya dengan amal sholeh. 

Terdapat 3 tipe manusia seiring dengan perubahan waktu, yaitu:

1. Manusia yang beruntung.

Ini adalah mereka yang berubah lebih baik, orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini.

2. Manusia yang rugi.

Mereka yang tidak berubah akan termasuk dalam tipe ini, yaitu orang yang hari ini sama dengan hari kemarin, dan hari esok sama dengan hari ini.

3. Manusia yang celaka,

yaitu jika ia berubah menjadi lebih jelek, yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, dan hari esok lebih buruk dari hari ini.


Melakukan mutabaah diri  = Tarbiyah zatiyah (membina diri sendiri)

Mengapa muhasabah penting ?

Jumat, 28 Mei 2021

Break Free Of Insecurity & Awaken Your True Passion

 Assalamualaikum. Beberapa informasi yang bermanfaat dari salah satu webinar.

Tentang menemukan 'passion'

Passion  : sesuatu yang membuat kita semangat, tergugah dan ingin mengetahui lebih dalam.

1. Sangat berenergi
2. Sangat enjoy
3. Sangat tertarik dan penasaran

Sebab hilangnya antusiasme :

1. Tidak cukup mendapatkan tempat dari lingkungan
2. Memiliki cara pandang negatif terhadap diri sendiri (underestimate)
3. Terjebak rutinitas dan tidak sempat melakukan self connecting

Penyebab mudah bosan :

1. Tidak mengenal diri sendiri 
2. Tidak cukup kenal dengan apa yang dicari

Bakat : potensi keahlian
Minat : refleksi sukanya ke mana

'' Pada umur kita ada jadwal resah yang diatur Allah. Apakah dengan momen tersebut menjadi lebih baik atau sebaliknya. Setelah melewati apakah ada progress yang dilakukan walaupun di awal terseok-seok?''


Singkat banget ya informasi yang bisa aku berikan. Mudah-mudahan tetap bermanfaat untuk teman-teman semua ya. 

Terima kasih

Senin, 01 Februari 2021

Diary Sang Pemimpi

 

Buku ini adalah buku karya Zeni Rahmawati yang pertama aku baca. Awalnya pengen baca buku yang Skotlandia I'm In Love karena lebih tipis. Eh, karena ternyata itu adalah buku kedua, jadilah baca yang pertama dlu. Skuy!⁣⁣
⁣⁣
Kurang lebih buku ini terbagi menjadi 3 bagian. ⁣⁣

Kamis, 26 November 2020

Kontribusi Muslim Bagi Kemajuan & Pembangunan Bangsa

 Disclaimer: tulisan ini didapatkan dari menyimak video. Adapun video lengkap dapat dilihat disini.

Kontribusi Muslim Bagi Kemajuan & Pembangunan Bangsa bersama Dr Attabik Luthfi, MA

Tema bersifat reflektif, apa yang kita bahas adalah tentang diri, bangsa, masyarakat dan umat kita. Mudah-mudahan bisa meningkatkan kontribusi diri dan akan hadir negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafûr.

Muslim Kontributif:

"Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." Surah An-Nahl:97

Barangsiapa bukan berarti pilihan tetapi menunjukan sebuah konsekuensi bahwa orang beriman adalah orang yang selalu mengerjakan kebajikan karena menginginkan kehidupan yang lebih baik. Allah selalu menyiapkan pahala yang lebih besar dari yang kita lakukan atau kontribusikan.